Jejak Langkah Guru Pembelajar di Pulau Dewata
- Perguruan Islam Al Syukro Universal
- Berita SD
- Hits: 189

(Catatan Perjalanan Uji Coba Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru dalam Mengajar Bahasa Inggris – PKGMBI, Bali, 27–30 Oktober 2025)
Pagi itu, langit Jakarta mulai terasa hangat ketika saya melangkah menuju Bandara Soekarno-Hatta. Ada rasa haru dan bangga dan kecemasan ketika akan berangkat menunaikan tugas belajar, mengikuti Uji Coba Pelatihan Peningkatan Kompetensi Guru dalam Mengajar Bahasa Inggris (PKGMBI) di Pulau Bali, tanah yang dikenal indah dan sarat budaya. Saya bukan guru Bahasa Inggris,s aya juga tidak punya background Pendidikan Bahasa Inggris saya juga belum pernah mengajar Bahasa Inggris, Namun takdir Allah melalui malaikatnya yang membawa saya dalam perjalanan ini.
Pesawat yang saya tumpangi menembus langit biru, membawa harapan baru menuju tempat di mana ratusan guru dari seluruh provinsi di Indonesia berkumpul dengan satu tujuan: belajar dan berkembang bersama. Sesampainya di Bandara I Gusti Ngurah Rai, sambutan hangat matahari sore dan semilir angin Bali menyambut dengan ramah, seolah ikut mengucap selamat datang di pulau Dewata kepada kami para guru pembelajar.
Kegiatan pelatihan resmi dibuka oleh Direktur Direktorat Sekolah Dasar, Ditjen Dikdasmen Kemendikbudristek. Dalam sambutannya, beliau menegaskan bahwa Bahasa Inggris bukan hanya sekedar mata pelajaran tapi sebagai jendela dunia dan guru adalah penjaga jendela itu. Pelatihan ini merupakan upaya untuk terus menyalakan cahaya para guru agar semakin terang menerangi generasi penerus Indonesia.
Selama empat hari kami mengikuti berbagai sesi pelatihan yang sangat inspiratif. Materi disampaikan oleh para fasilitator yang luar biasa — para doktor dan profesor dari perguruan tinggi negeri ternama di Indonesia. Dengan pengalaman dan wawasan luas, mereka membimbing kami memahami strategi pembelajaran bahasa Inggris yang komunikatif, kreatif, dan menyenangkan.
Setiap sesi terasa hidup, kami diajak berdiskusi, berlatih, dan mempraktikkan berbagai teknik mengajar yang kontekstual — mulai dari penggunaan media digital, lagu, hingga permainan bahasa yang membuat siswa aktif dan gembira. Rasanya seperti menemukan kembali semangat baru dalam dunia mengajar.
Yang paling berkesan adalah suasana kebersamaan di antara peserta. Guru-guru dari berbagai daerah — dari Aceh hingga Papua — saling berbagi cerita, tawa, dan inspirasi. Meski datang dari tempat yang berbeda, kami memiliki semangat yang sama: ingin memberikan pembelajaran terbaik bagi anak-anak Indonesia.
Menjelang akhir pelatihan, kami mengikuti sesi refleksi dan rencana tindak lanjut. Setiap kata yang disampaikan para fasilitator terasa menumbuhkan keyakinan bahwa menjadi guru berarti terus belajar sepanjang hayat.
Kegiatan ditutup dengan suasana hangat dan penuh rasa syukur. Saya pulang ke Jakarta dengan hati yang penuh semangat, membawa banyak ilmu, pengalaman, dan inspirasi baru.
Pelatihan ini menjadi jejak indah dalam perjalanan saya sebagai guru pembelajar — bahwa mengajar bukan sekadar menyampaikan pelajaran, tetapi juga menyalakan cahaya pengetahuan, harapan, dan cinta untuk anak-anak bangsa.
Terimakasih kepada Dikdasmen yang telah memberikan kesempatan baik ini kepada saya dan terimakasih kepada teman-teman sejawat yang telah memberikan bantuan dan dukungan kepada saya
Bali,30 Oktober 2025
Tarni

